YOGYAKARTA, POPULI.ID – Pemadangan tak biasa terlihat menghiasi pinggir Jalan Panembahan Senopati mulai Titik Nol Kilometer Malioboro hingga Simpang Empat Gondomanan, Kota Yogyakarta, pada Kamis (5/3/2026).
Lantaran sejumlah orang membuka lapak yang menawarkan jasa penukaran uang baru. Lapak mereka terbuat sederhana dari meja maupun kursi lipat dengan spanduk ketik bertuliskan jasa penukaran uang baru.
Puluhan gepok uang baru pecahan Rp1000, Rp2000, Rp5000, Rp10.000, Rp20.000, Rp50.000, dan Rp100.000 pun ditata rapi menghiasi lapak sederhana mereka. Sejumlah pengendara pun terlihat silih berganti menepi untuk menggunakan jasa penukaran uang baru tersebut.
Seorang penyedia jasa penukaran uang baru, Tri Yunanto (45), mengaku sudah dua pekan membuka lapak di Jalan Panembahan Senopati, tepatnya di depan Taman Pintar Yogyakarta. Warga Kabupaten Bantul itu telah 20 tahun menyediakan jasa penukaran uang baru dadakan setiap menjelang Hari Raya Idulfitri atau Lebaran.
“Iya setiap tahun kalau mau Lebaran, saya pasti buka jasa penukaran uang baru,” kata Yunanto kepada Populi.id, Kamis (5/3/2026).
Jasa penukaran uang baru itu bermunculan menyusul tradisi masyarakat Indonesia yang kerap berbagi THR dengan uang pecahan baru kepada anak-anak kecil atau sanak saudara ketika Lebaran.
Dikatakan, banyak masyarakat yang menggunakan jasa penukaran uang baru di pinggir jalan karena tidak perlu berebut kuota antrean dari Bank Indonesia.
“Peminatnya banyak, karena kalau penukaran uang di Bank itu susah, harus online pakai HP dan minimal Rp1 juta. Tapi kalau di sini bisa ecer, tukar Rp100 ribu atau Rp200 ribu bisa,” ucapnya.
Menurut Yunanto, masyarakat yang ingin menukarkan uang lama dengan pecahan uang baru diberikan tarif biaya 15 persen per Rp100 ribu. Tarif itu berlaku kelipatan jumlah uang yang akan ditukar.
“Jadi kalau tukar Rp100 ribu, maka tambah biasa jasa Rp15 ribu, sehingga bayarnya Rp115 ribu. Kalau tukar Rp200 ribu maka bayarnya Rp230 ribu,” jelas dia.
Meski demikian, tarif jasa penukaran uang baru itu tidak berlaku permanen. Sebab seiring mendekati Hari Raya Idulfitri, tarif jasa penukaran uang baru bisa melonjak hingga 30 persen.
“Untuk saat ini belum terlalu ramai karena orang dari luar Jawa belum pada balik ke Jogja. Biasanya semakin ramai ketika puasa sudah dapat tiga Minggu,” tuturnya.
Setiap hari, Yunanto mengaku membawa pecahan uang baru senilai Rp4 juta. Menurutnya, pecahan uang baru Rp5000 dan Rp10.000 menjadi incaran masyarakat.
“Biasanya sebelum Lebaran sudah habis stoknya,” papar Yunanto.
Sementara itu, Rini (52), warga Gedong Kuning, memilih buka jasa penukaran uang baru setiap menjelang Lebaran. Wanita yang sehari-hari jualan aksesoris handphone itu mengaku sudah 20 tahun melakoni penyedia jasa penukaran uang baru dadakan.
“Saat ini komisinya (tarif jasa) masih nambah 15 persen. Kalau besok Senin kemungkinan sudah naik 25 persen. Tapi begitu mendekati Lebaran bisa naik 30 persen,” tuturnya.
“Saya tahu sebenarnya jualan uang tidak boleh. Jadi setiap tahun sekitar 50 persen dari keuntungan jasa saya bagi-bagikan sebagai zakat,” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)












