YOGYAKARTA, POPULI.ID – Hujan deras berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah DIY pada Kamis (9/4/2026) malam, membuat air Kali Belik di Kota Yogyakarta meluap. Akibatnya, puluhan rumah warga yang berada di pinggir Kali Becik terendam banjir.
Sejumlah rumah warga yang terdampak luapan air Kali Belik itu berada di RT 47 RW 10 Kampung Sagan, Kelurahan Terban, dan RT 31 Kampung Iromejan, Kelurahan Klitren di Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta.
Seorang warga, Kasminah (60), mengungkapkan bahwa aliran Kali Belik mulai meluap sekitar pukul 20.30 WIB. Awalnya, luapan air hanya setinggi mata kaki. Namun dalam beberapa menit luapan air menjadi sepinggang orang dewasa.
“Saat banjir itu saya sedang menghadiri acara Yasinan di Masjid. Kondisinya kayak Ngaji di tengah kapal, air banjirnya tinggi sepinggang orang dewasa. Banjirnya itu pukul 20.30 WIB, terus sekitar pukul 21.30 WIB mulai surut,” ucapnya kepada Populi.id, Jumat (10/4/2026).
Saat kejadian, Kasminah mengaku sempat khawatir luapan air sungai akan memasuki rumahnya. Beruntung hal itu tidak terjadi karena cucunya sudah menutup celah pintu menggunakan plastisin atau malam.
“Di sini memang sering banjir. Kalau hujan deras pasti air Kali Belik meluap. Kami sih berharap Sungai Belik tidak banjir-banjir lagi,” ujarnya.
Warga lainnya, Lamsidi (64), membenarkan bahwa sejak dulu aliran Kali Belik sering meluap ketika hujan deras mengguyur. Sebab, aliran sungai yang membatasi wilayah Kelurahan Terban dan Klitren itu menjadi muara pembuangan air dari daerah sekitar UGM dan UNY.
“Jadi kalau di sini tidak hujan, tapi di atas hujan, pasti banjir. Karena Kali Belik untuk menampung kiriman air dari UGM, UNY, dan sekitarnya,” katanya.

Lebih lanjut, Lamsidi mengatakan bahwa Kali Belik memiliki lebar sekitar 2 meter dan tinggi 1,6 meter. Dikatakan ketika banjir, tinggi air yang mengalir di Kali Becik bisa mencapai 2 meter. Saking seringnya banjir, jejak luapan air Kali Belik pun tertinggal di tembok rumah warga.
Mengenai peristiwa itu, Pemerintah Kota Yogyakarta terus berupaya melakukan langkah antisipasi dan mitigasi. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyebut pihaknya telah memasang penghalang air di pintu-pintu jalan yang menghubungkan antara kampung barat jalan dengan timur jalan. Tujuannya agar ketika air meluap, pintu tersebut ditutup sehingga luapan air tidak masuk rumah warga.
“Tetapi air datangnya tidak hanya dari barat, tapi dari utara karena lebih tinggi, sedangkan daerah timur lebih rendah,” ujarnya.
Oleh karena itu, pihaknya telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menyelesaikan masalah tersebut. Antara lain, akan membuat sodetan atau saluran buatan sampai Jalan Solo. Kemudian mengabungkan sodetan dengan selokan yang akan mengarahkan air ke Sungai Code.
“Karena aliran sungai yang di bawah Jalan Solo menyempit. Jadi nanti air dari utara akan kami buat sodetan sampai di Jalan Solo,” paparnya.
“Setelah itu, kami akan buat selokan sampai Sungai Code. Insya Allah itu akan kami kerjakan tahun ini. Mudah-mudahan 2027 sudah tidak terjadi banjir lagi,” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)












