YOGYAKARTA, POPULI.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memberikan pendampingan psikoedukasi kepada orangtua korban dugaan kekerasan anak Daycare Little Aresha di Ruang Bima kompleks Balai Kota Yogyakarta, pada Minggu (10/5/2026). Pendampingan psikologis itu diberikan untuk menguatkan mental para orangtua korban.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta, Retnaningtyas, mengatakan bahwa sesuai arahan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, Pemkot Yogyakarta terus melakukan pendampingan psikologis, tumbuh kembang, dan hukum kepada korban terdampak.
“Termasuk saat ini kami berikan psikoedukasi untuk menguatkan mental orangtua yang menitipkan anaknya di Daycare Little Aresha,” ucapnya kepada awak media, Minggu (10/5/2026).
Retno menyebut psikoedukasi itu sangat penting diberikan kepada para orangtua korban untuk menumbuhkan kembali rasa percaya diri mereka. Sebab, sampai saat ini para orang tua korban cenderung menyalahkan diri sendiri atas apa yang dialami buah hatinya.
“Jadi ini sangat penting, karena selama ini orang tua merasa bersalah menyekolahkan anak di sana (Daycare Little Aresha). Ada perasaan ‘kok saya begini’. Nah kami mulai coba untuk melakukan psikoedukasi agar perasaan itu segera terurai,” kata dia.
Tak hanya itu, beberapa orang tua juga dilaporkan memiliki trauma dan takut menyekolahkan anaknya. Sehingga mengambil cuti bahkan resign dari pekerjaan untuk mengasuh anaknya sendiri. Oleh karena itu, pihaknya memberikan materi terkait trauma healing dalam psikoedukasi tersebut.
“Psikoedukasi itu salah satu fungsinya untuk menguatkan mental para orang tua dan menghilangkan trauma bahwa tidak semua daycare seperti Daycare Little Aresha. Mereka trauma tidak mau menitipkan anaknya di daycare sementara harus bekerja, sehingga trauma itu harus diselesaikan,” jelasnya.
Adapun dalam memberikan pendampingan psikologis bagi anak dan orang tua korban, Pemkot Yogyakarta menggandeng 94 psikolog dari UPT PPA, IPK, HIMSI, rumah sakit, dan puskesmas di Kota Yogyakarta.
Retno menyampaikan, konsultasi dan pendampingan korban serta orang tua sudah dilakukan sejak kasus dugaan kekerasan anak mencuat setelah dilakukan pengerebekan daycare tersebut. Hingga kini, layanan helpdesk pun masih dibuka untuk memfasilitasi para orang tua korban yang belum melakukan pelaporan.
“Data terakhir di UPT PPA sudah ada 194 anak yang mengakses dan mendapatkan asessment. Rata-rata aduannya sam. Sebagian besar memang alumni dan yang masih aktif dititipkan di daycare tersebut. Menurut laporan hasil asessment memang seperti itu (semua mengalami kekerasan),” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)












