BANTUL, POPULI.ID – Perubahan sosial dan ekonomi di era disrupsi menuntut generasi muda untuk tidak hanya unggul secara akademik. Mahasiswa saat ini juga wajib memiliki kreativitas, daya juang, serta kepedulian sosial yang tinggi.
Tantangan Indonesia ke depan diprediksi semakin berat. Mulai dari persaingan individu yang ketat, menyusutnya kelas menengah, hingga rendahnya kompetensi tenaga kerja.
Di tengah kondisi tersebut, mahasiswa memiliki peran penting sebagai kelompok intelektual yang mampu menghadirkan gagasan dan karya nyata bagi masyarakat.
Hal itu ditegaskan oleh Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya beradaptasi dengan perubahan zaman. Mereka juga harus mampu membangun kapasitas diri untuk menciptakan perubahan di tengah masyarakat.
Pentingnya Membangun Lingkungan dan Pola Pikir Positif
Prof. Zuly menyampaikan gagasan tersebut dalam Talkshow Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia. Acara yang bertema “Menyongsong Peran dan Aksi Nyata Mahasiswa dalam Pemberdayaan Masyarakat” ini digelar pada Selasa (26/5/2026) di Gedung Djarnawi Hadikusuma UMY.
“Mahasiswa perlu membangun lingkungan yang mampu mendorong kemajuan diri. Kebiasaan membaca buku tokoh-tokoh besar dan bergaul dengan orang-orang inspiratif menjadi salah satu cara untuk membentuk pola pikir yang berkembang,” ungkap Prof. Zuly.
Ancaman Persaingan Kompetitif 2021–2030
Zuly juga menyoroti ancaman era disrupsi bagi masyarakat Indonesia. Menurutnya, periode 2021–2030 akan menghadirkan persaingan individu yang jauh lebih kompetitif. Kondisi ini harus menjadi peringatan serius bagi mahasiswa agar tidak terlena dengan nilai akademik semata.
IPK Tinggi Bukan Lagi Satu-satunya Jaminan
Dunia kerja saat ini membutuhkan individu yang menguasai kemampuan komunikasi, kreativitas, serta keberanian menciptakan solusi nyata. Kompetensi praktis inilah yang akan membedakan lulusan di pasar kerja.
“IPK itu penting, tetapi bukan satu-satunya hal yang bisa diandalkan. Sekarang banyak orang memiliki IPK tinggi. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan lain yang membuat dirinya berbeda. Public speaking, kemampuan meyakinkan orang, dan kemampuan menciptakan sesuatu, itulah yang akan dicari,” tegasnya.
Zuly juga mengingatkan generasi muda agar tidak melupakan asal-usul mereka. Kesuksesan karier harus dibarengi dengan kepedulian sosial untuk membantu masyarakat yang masih menghadapi kesulitan hidup.
“Anda tidak bisa memilih lahir dari keluarga siapa atau berasal dari daerah mana. Namun, ketika sudah berhasil, jangan lupa kembali kepada masyarakat. Sebagus apa pun pencapaian seseorang, pada akhirnya ia tetap berasal dari lingkungan tempat ia dibesarkan,” tutur Zuly.
Mendorong Lahirnya Creative Minority
Pada akhir pemaparannya, Prof. Zuly berharap generasi muda mampu menjadi creative minority. Istilah ini merujuk pada kelompok kecil yang berani berpikir kreatif, menghadirkan karya nyata, dan tetap berpihak kepada masyarakat luas di tengah tantangan disrupsi.
Melalui langkah ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi lulusan yang unggul di atas kertas. Mereka harus mampu bertransformasi menjadi penggerak perubahan sosial yang nyata di dunia kerja dan masyarakat.






![Ilustrasi pemilu. [pexels]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/05/pexels-element5-1550337-120x86.jpg)





![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)