YOGYAKARTA, POPULI.ID – Bank Sampah Berlian di Tompeyan, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta mengembangkan inovasi pengolahan sampah residu dengan memanfaatkan minyak jelantah sebagai sumber energi untuk menghasilkan bahan bakar.
Metode tersebut diklaim lebih efisien karena mampu memangkas biaya operasional dan waktu produksi dibanding cara sebelumnya yang masih menggunakan tabung LPG 15 kilogram.
Pengelola Bank Sampah Berlian, Eka Yulianta, mengatakan alat yang dikembangkan mampu menghasilkan bahan bakar hingga sekitar satu liter dalam satu kali proses pengolahan. Sebelumnya, pihaknya menggunakan metode pirolisis dengan bahan bakar LPG non-subsidi yang dinilai kurang ekonomis.
“Awalnya kami memakai pirolisis dengan gas LPG 15 kilogram non-subsidi. Sekali proses menghasilkan sekitar 90 mililiter hingga satu liter jika alat terisi penuh,” kata Eka, Minggu (26/7/2026).
Ia menjelaskan, proses pengolahan kini dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu jam. Bahan baku yang digunakan merupakan sampah plastik residu berupa kemasan yang sudah tidak memiliki nilai ekonomi maupun potensi untuk didaur ulang.
Untuk meningkatkan efisiensi pembakaran, pihaknya menambahkan kompor dan blower pada alat tersebut. Biaya pembuatan alat juga relatif murah, yakni kurang dari Rp120 ribu, sementara blower dapat digunakan berulang kali sehingga biaya produksi menjadi lebih rendah.
Menurut Eka, sekitar 300 kilogram sampah residu dapat diolah menjadi bahan bakar cair dengan kandungan sulfur sekitar 50 ppm, angka oktan (RON) minimal 91, serta emisi gas buang yang telah memenuhi standar Euro 4.
Meski demikian, hasil bahan bakar tersebut masih harus melalui proses destilasi atau penyulingan agar kualitasnya meningkat. Setelah melalui proses tersebut, angka oktan bahan bakar disebut dapat mencapai RON 94.
“Kalau didestilasi bisa mencapai RON 94, bahkan di atas Pertamax. Namun alat destilasi cukup mahal karena menggunakan peralatan laboratorium,” jelasnya.
Eka menambahkan, mesin pengolah sampah produksi pabrikan yang banyak beredar di pasaran umumnya belum mampu mengolah sampah residu. Menurutnya, mesin tersebut lebih banyak memanfaatkan plastik yang masih memiliki nilai jual, sedangkan persoalan utama justru berasal dari sampah residu yang tidak lagi dapat dimanfaatkan.
Selain menjadi bahan bakar, minyak jelantah juga dapat diolah menjadi produk lain seperti sabun, pupuk, hingga pestisida. Menurutnya, jika dikelola secara kreatif, sampah dapat memberikan nilai tambah sekaligus mengurangi persoalan lingkungan.
Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD Kota Yogyakarta, Oleh Yohan, menyambut baik inovasi tersebut. Ia menilai pemanfaatan sampah residu dan minyak jelantah menjadi bahan bakar merupakan salah satu bentuk rekayasa pengolahan limbah yang patut didukung.
Meski demikian, ia menekankan perlunya kajian lebih lanjut terkait ketersediaan minyak jelantah sebagai bahan baku, termasuk aspek keekonomian dari hasil pengolahannya.
“Kalau memang bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat tentu kami mendukung. Tinggal dihitung apakah secara ekonomi lebih menguntungkan dibanding minyak jelantah dijual langsung atau diolah menjadi bahan bakar,” ujarnya. (populi.id/Hadid Pangestu)








![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



