• Tentang Kami
Rabu, September 2, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home headline

Cerita di Balik Pro Kontra Memotret Pelari di Yogyakarta, Ini Kata Mereka

Seiring meningkatnya tren lari kini muncul sejumlah fotografer freelance yang mengabadikan aktivitas tersebut. Belakangan muncul pro kontra tentang kehadirannya

byGalih Priatmojo
Mei 12, 2025
in headline, Kota Yogyakarta
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Sejumlah fotografer freelance bersiap memotret sejumlah pelari di kawasan Tugu Yogyakarta

Sejumlah fotografer freelance bersiap memotret sejumlah pelari di kawasan Tugu Yogyakarta. [populi.id/Olyvia Cahaya Sari]

0
SHARES
40
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

YOGYAKARTA, POPULI.ID – Aktivitas lari dalam beberapa waktu belakangan sedang jadi tren di masyarakat, termasuk juga bagi warga Yogyakarta.

Bila biasanya aktivitas tersebut hanya didapati pada akhir pekan saja, kini nyaris tiap hari aktivitas lari bisa dijumpai di setiap sudut kota, diantaranya di kawasan Jalan Pangeran Mangkubumi, atau tepatnya di area selatan Tugu Yogyakarta.

BERITA MENARIK LAINNYA

Gubernur DIY Sri Sultan HB X Lantik Sembilan Pejabat Eselon II di Lingkungan Pemda DIY

Pakuwon Mall Bantah Pemasangan Pagar Terkait Isu Antisipasi Kerusuhan

Menggeliatnya tren aktivitas lari atau jogging nyatanya membuka peluang baru, terutama bagi para fotografer freelance untuk meraup cuan.

Namun, aktivitas memotret para pelari tersebut belakangan menimbulkan pro kontra. Ada yang biasa saja tapi tak sedikit pula yang risih hingga takut foto yang diambil kelak disalahgunakan.

Bayu Nugroho (38), seorang pelari yang rutin berlari di area Tugu setiap akhir pekan mengaku sebagai yang tak mempermasalahkan aktivitasnya dijepret sejumlah fotografer freelance. Ia justru merasa lebih termotivasi dengan adanya fotografer yang mengabadikan momen dirinya berlari.

“Saya jadi merasa seperti atlet profesional. Ada yang mendokumentasikan perjuangan saya secara real time. Rasanya lebih berharga,” kata Bayu saat ditemui Populi.id, Minggu (11/5/2025).

Bagi Bayu, interaksi spontan antara fotografer dan pelari malah membuat suasana lebih cair. “Kadang mereka kasih semangat sambil motret, itu bikin senyum sendiri. Nggak terasa beratnya lari,” tambahnya.

Namun pandangan berbeda datang dari Siska Pramudita (27), seorang pelari yang cukup aktif berolahraga di kawasan Tugu Yogyakarta.

Siska mengaku merasa kurang nyaman dengan kehadiran fotografer yang mengabadikan momen dirinya berlari, terutama jika dilakukan tanpa izin.

“Risih saja rasanya. Saya pernah merasa sangat risih saat difoto ketika sedang membenahi pakaian, dan itu tanpa saya sadari,” ujarnya.

Menurut Siska, lari adalah aktivitas yang sangat personal dan membutuhkan konsentrasi penuh. Ia merasa keberadaan fotografer yang terlalu agresif bisa membuat pelari merasa diawasi, bukan didukung.

“Saat lari pastinya kami ingin fokus bertahan, bukan tampil. Kalau harus mikir soal kamera juga, itu melelahkan secara mental,” tegasnya.

Siska juga mengkritik etika distribusi foto. “Beberapa foto bisa saja viral tanpa izin atau bahkan digunakan untuk promosi. Kalau wajah atau tubuh saya dipakai tanpa sepengetahuan, itu sudah melanggar privasi,” katanya.

Potret dari Pinggir Lintasan: Merekam Ekspresi dan Cerita

Di sisi lain, para fotografer yang terlibat dalam tren ini melihat peluang untuk mendokumentasikan emosi dan ekspresi yang lebih jujur dari pelari.

David (30), seorang fotografer lepas asal Yogyakarta yang aktif memotret di event-event olahraga di kawasan Tugu Yogyakarta, menyebut bahwa memotret pelari bisa memberikan nilai tambah dalam dokumentasi olahraga.

“Ekspresi pelari saat lelah atau bersemangat itu nggak bisa diulang. Saya memang nggak masuk ke lintasan, tapi cari spot di sisi jalur buat menangkap momen-momen itu,” jelasnya.

Terkait pro-kontra yang berkembang di kalangan pelari, David mengaku tetap menghormati kenyamanan masing-masing pelari.

“Kalau ada yang nggak mau difoto, biasanya mereka kasih sinyal—nutup wajah atau kasih tanda silang dengan tangan. Ya sudah, saya nggak ambil,” ujarnya.

David menambahkan, hasil foto-fotonya kemudian ia unggah ke platform berbasis AI, yang memungkinkan orang membeli foto dengan harga antara Rp25 ribu hingga Rp35 ribu per foto.

Menurut David, perihal izin penggunaan foto akan diberikan langsung melalui platform yang secara otomatis mengonfirmasi kepada pelari dalam foto.

“Kalau wajah seseorang terdeteksi masuk ke sistem, mereka nanti akan dapat notifikasi. Jadi, izinnya disampaikan langsung ke pemilik wajah,” tambahnya.

Meski hanya memotret di akhir pekan dan tidak bisa mengakses semua lokasi, David mengaku dapat meraih hingga 15 foto per hari yang terjual.

Siti (22), seorang karyawan perusahaan swasta, juga terjun dalam dunia fotografi pelari.

Siti memulai aktivitas ini sebagai hobi, tetapi kemudian tertarik untuk terus menggelutinya karena ada keuntungan finansial yang menjanjikan.

“Awalnya cuma iseng. Tapi setelah tahu bisa menghasilkan uang, jadi tertarik terus,” katanya.

Siti menganggap perdebatan tentang fotografer pelari wajar terjadi, karena tidak semua orang senang difoto.

“Nggak semua orang suka difoto, jadi wajar kalau ada yang keberatan. Tapi banyak juga kok yang justru senang dan minta difoto,” jelasnya.

Sebagai fotografer yang aktif memotret di kawasan seperti Tugu dan Malioboro saat event besar, Siti menyadari potensi keuntungan dari hasil foto.

“Kalau event besar, hasil fotonya lebih banyak dan biasanya lebih laku juga,” ungkapnya.

Tags: fotograferlaripotretTuguYogyakarta

Related Posts

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, melantik sembilan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di Bangsal Kepatihan, kompleks Kantor Gubernur DIY, pada Rabu (5/8/2026).

Gubernur DIY Sri Sultan HB X Lantik Sembilan Pejabat Eselon II di Lingkungan Pemda DIY

Agustus 5, 2026
Sejumlah titik sekitar Pakuwon Mall dilakukan pemasangan pagar, Senin (3/7/2026).

Pakuwon Mall Bantah Pemasangan Pagar Terkait Isu Antisipasi Kerusuhan

Agustus 5, 2026
Pengolahan sampah perolisis memanfaatkan minyak jelantah di Bank Sampah Berlian, Tompeyan, Kota Yogyakarta, Minggu (26/7/2026).

Bank Sampah Berlian Kembangkan Inovasi Ubah Sampah Residu dan Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar

Juli 27, 2026
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY Kusno Wibowo.

Proyek PSEL DIY Masih Matangkan Persiapan, Pembangunan Ditargetkan Dimulai Akhir 2026

Juli 27, 2026
Wamen UMKM, Helvi Moraza, saat menghadiri perjanjian kerja sama Kementerian UMKM dan Aprindo untuk menghapus biaya listing fee produk usaha mikro masuk ke ritel modern, di Teras Malioboro 1 Kota Yogyakarta, Jumat (17/7/2026) malam.

Dobrak Akses Pasar, Kementerian UMKM Bebaskan Listing Fee Ritel Modern untuk Usaha Mikro

Juli 19, 2026
Sejumlah penumpang mengantre di gate tiket setelah menggunakan layanan KAI Bandara YIA PSO, belum lama ini.

Tren Meningkat, KAI Bandara YIA PSO Layani 865.187 Penumpang Selama Januari-Juni 2026

Juli 19, 2026
Next Post
Malioboro merupakan satu diantara destinasi wisata di Jogja yang banyak dikunjungi wisatawan terutama ketika libur Lebaran

Libur Waisak, Kunjungan Wisatawan ke DIY Turun Dibanding Tahun 2024 Lalu

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]

9 SMP Negeri Terbaik di Sleman Berdasar Data Terbaru Tahun 2026

Februari 9, 2026
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

Juni 18, 2025
Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

Juni 4, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

Juni 12, 2025
SMP Negeri 5 Yogyakarta

7 SMP Negeri Terbaik di Kota Yogyakarta Berdasarkan Ranking TKA-TKAD 2026

Mei 6, 2026

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.