• Tentang Kami
Sabtu, Oktober 10, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home Cendekia

Data Kemiskinan Terlambat Dirilis, Pakar UGM Ingatkan Soal Integritas dan Kredibilitas

data statistik bukanlah milik pemerintah, tetapi milik publik. Pemerintah hanya diberi mandat untuk mengelola dan merilis data menggunakan dana publik.

byGalih Priatmojo
Agustus 1, 2025
in Cendekia, headline
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Ilustrasi kemiskinan

Ilustrasi kemiskinan. [pixabay/pranavsinh232]

0
SHARES
6
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

SLEMAN, POPULI.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini merilis data kemiskinan untuk Maret 2025 yang mencatat penurunan kemiskinan menjadi 8,47 persen.

Angka tersebut menjadi angka kemiskinan paling rendah dalam dua dekade. Namun, selain angkanya yang disoroti publik, waktu rilisnya yang terlambat juga mendapat atensi.

BERITA MENARIK LAINNYA

Dari Titik Minus, F Bambang Sigit Sulaksana Meniti Jalan Panjang Hingga Parlemen

Pemilu Bukan Sekadar Coblosan, Bawaslu DIY Buka Ruang Belajar Demokrasi

Sejumlah pakar mempertanyakan apakah penundaan ini murni teknis atau ada potensi politisasi mengingat sensitifnya data kemiskinan menjelang momentum politik seperti pilkada.

Pakar dari bidang Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) FISIPOL UGM, Nurhadi menilai bahwa keterlambatan tersebut bisa dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, ia mengapresiasi langkah BPS jika mengarah pada komitmen positif terhadap kualitas dan validitas data.

Menurutnya, jika alasan penundaan adalah untuk menjamin akurasi dan harmonisasi standar global, maka itu menunjukkan itikad baik.

“Tetapi transparansi terhadap publik harus dijaga. Kalaupun ada penundaan, harus ada komunikasi yang jelas. Metodologi, validitas, dan alasan teknis lain harus terbuka,” ujarnya dikutip dari laman UGM, Jumat (1/8/2025).

Nurhadi menyebut keterlambatan ini menyimpan risiko yang tidak kecil. Salah satunya adalah kehampaan data dalam siklus perencanaan kebijakan. Pemerintah pusat maupun daerah sangat bergantung pada data kemiskinan untuk menyusun program perlindungan sosial.

“Ketika data ditunda, intervensi kebijakan bisa meleset karena mengacu pada data lama,” jelasnya.

Kritik lain yang lebih serius adalah potensi tergerusnya kepercayaan publik terhadap BPS sebagai institusi statistik nasional. Apalagi jika penundaan terjadi berulang dan dalam konteks politik elektoral.

“Di era literasi digital saat ini, publik semakin peka. Kalau tidak dijelaskan dengan baik, justru bisa muncul asumsi bahwa data ditahan demi kepentingan tertentu,” tambah Nurhadi.

Lebih dari itu, Nurhadi juga mengingatkan agar independensi BPS harus dijaga secara ketat dari intervensi politik, terutama menjelang pemilu.

Menurutnya, data statistik bukanlah milik pemerintah, tetapi milik publik. Pemerintah hanya diberi mandat untuk mengelola dan merilis data menggunakan dana publik. Oleh karena itu, keterbukaan dan keteraturan dalam merilis data menjadi bentuk pertanggungjawaban kepada warga negara.

Terkait substansi data terbaru, Nurhadi menyoroti bahwa meskipun angka kemiskinan menurun, ukuran resmi garis kemiskinan di Indonesia masih terlalu rendah dan tidak merepresentasikan realitas sosial-ekonomi masyarakat.

“Dengan standar sekitar Rp600 ribu per bulan per orang, banyak kelompok yang sebenarnya miskin secara riil tapi tidak terdata,” katanya.

Ia menambahkan bahwa data saat ini belum mengadopsi standar internasional seperti dari World Bank yang jika digunakan bisa melonjakkan angka kemiskinan nasional menjadi dua hingga tiga kali lipat. Meski demikian, Nurhadi mengakui bahwa adopsi standar global harus dilakukan secara bertahap.

“Kalau belum siap secara teknis dan politis, jangan dipaksakan. Tapi harus ada roadmap menuju ke sana,” sarannya.

Ia juga menekankan pentingnya pemantauan keberlanjutan bagi warga yang baru keluar dari garis kemiskinan agar tidak kembali miskin, serta perlunya pendekatan berbasis pemberdayaan ekonomi, bukan sekadar bantuan.

“Rilis data bukan semata tugas teknis tahunan, tapi hak publik yang memungkinkan warga menilai kinerja negara,” tegasnya.

Dalam konteks pembangunan berbasis bukti (evidence-based policy), kualitas dan ketepatan waktu data menjadi elemen vital. Ia mendorong pemerintah, khususnya BPS, untuk menguatkan komunikasi publik dan tata kelola statistik ke depan.

Tags: Badan Pusat StatistikkemiskinanNurhadiPilkadapolitikUGM

Related Posts

Dari Titik Minus, F Bambang Sigit Sulaksana Meniti Jalan Panjang Hingga Parlemen

Dari Titik Minus, F Bambang Sigit Sulaksana Meniti Jalan Panjang Hingga Parlemen

September 8, 2026
Pemilu Bukan Sekadar Coblosan, Bawaslu DIY Buka Ruang Belajar Demokrasi

Pemilu Bukan Sekadar Coblosan, Bawaslu DIY Buka Ruang Belajar Demokrasi

September 7, 2026
Ilustrasi anak sekolah. [Pexels]

Soroti RUU Sisdiknas, Akademisi: Momentum Atur Ulang Visi Pendidikan Tanah Air

Juli 27, 2026
Ilustrasi perempuan terkena autoimun

Perempuan Rentan Terpapar Autoimun, Pakar Reumatologi: Perlu Manajemen Stres

Juli 21, 2026
Ilustrasi korupsi

Korupsi Kepala Daerah Masih Marak, Pakar UMY: Ongkos Pilkada Jadi Penyebab

Juli 14, 2026
Ilustrasi kerusakan lingkungan

Kerusakan Lingkungan di Indonesia Kian Parah, Arqom: Akibat Manusia Serakah

Juli 12, 2026
Next Post
Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Sleman, Sarastomo Ari Saptoto. [populi.id/Gregorius Bramantyo]

Pemutusan Kepesertaan PBI JK APBN di Sleman Capai 14.792 Orang, Penyebab Utama Perubahan Data DTSEN

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]

9 SMP Negeri Terbaik di Sleman Berdasar Data Terbaru Tahun 2026

Februari 9, 2026
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

Juni 18, 2025
Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

Juni 4, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

Juni 12, 2025
SMP Negeri 5 Yogyakarta

7 SMP Negeri Terbaik di Kota Yogyakarta Berdasarkan Ranking TKA-TKAD 2026

Mei 6, 2026

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.