• Tentang Kami
Sunday, July 12, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home headline

Jumlah Kasus Leptospirosis di DIY Melonjak, Pakar UMY Ungkap Biangnya

penyebaran leptospirosis yang cepat berkaitan erat dengan tingginya populasi tikus sebagai reservoir alami, serta perilaku masyarakat yang belum mendukung upaya pencegahan.

byGalih Priatmojo
August 6, 2025
in headline, Nasional
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Ilustrasi tikus penyebab pembawa hantavirus

Ilustrasi tikus penyebab pembawa hantavirus [vecteezy/Oleh Bilovus]

0
SHARES
38
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

YOGYAKARTA, POPULI.ID – Jumlah kasus leptospirosis di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami lonjakan signifikan hingga mencapai 282 kasus pada Juli 2025.

Dari angka tersebut, Kabupaten Bantul menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yaitu sebanyak 165 kasus, disusul Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Gunungkidul. Beberapa wilayah melaporkan kematian, dengan Bantul mencatatkan angka kematian tertinggi, yaitu 24 kasus.

BERITA MENARIK LAINNYA

Waspadai Dampak Cuaca Panas Ekstrem, Bayi hingga Penyandang Sakit Kronis Berisiko Tinggi

Kasus Penyekapan di Bandung, Guru Besar UMY Ingatkan Pentingnya Perlindungan Korban

Menurut dosen Program Studi Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang juga pakar epidemiologi lapangan, Dr. dr. Titiek Hidayati penyebaran leptospirosis yang cepat berkaitan erat dengan tingginya populasi tikus sebagai reservoir alami, serta perilaku masyarakat yang belum mendukung upaya pencegahan.

“Reservoir alami leptospirosis adalah tikus, dan populasi tikus di lingkungan kita masih sangat banyak, baik di rumah, sawah, maupun peternakan. Penularan terjadi biasanya lewat luka terbuka atau mukosa yang terkena air kencing tikus,” jelas Titiek dikutip dari laman UMY, Rabu (6/8/2025).

Leptospirosis seringkali sulit terdiagnosis karena gejalanya mirip dengan penyakit lain seperti demam berdarah, tifoid, atau hepatitis. Titiek mengungkapkan bahwa gejala awal dapat berupa demam tinggi, nyeri otot, kulit dan mata menguning, dan jika sudah parah bisa menyebabkan gagal ginjal atau perdarahan pada paru-paru.

Sayangnya, alat diagnostik spesifik untuk leptospirosis, seperti mikroskop medan gelap atau uji ELISA dan RT-PCR, tidak tersedia di semua puskesmas, sehingga sering terjadi underdiagnosis atau overdiagnosis.

“Obat untuk leptospirosis sebenarnya mudah didapat dan tersedia di puskesmas, seperti ampisilin atau doksisiklin. Namun, karena pasien menganggap ini hanya demam atau gejala biasa, mereka sering terlambat datang berobat,” jelasnya.

Titiek menambahkan bahwa pengendalian leptospirosis harus dimulai dari perilaku bersih dan sehat, penggunaan alas kaki saat ke sawah atau tempat becek, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Ia menilai kurangnya praktik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) oleh masyarakat turut mempercepat penularan leptospirosis. Apalagi, masih ada petani yang tidak memakai alas kaki saat berada di sawah, padahal luka kecil saja bisa menjadi pintu masuk bagi bakteri.

Pemerintah, menurut Titiek, sudah cukup baik dalam mempromosikan PHBS, terutama sejak pandemi COVID-19. Namun, ia menilai pengendalian lingkungan dan manajemen sampah masih menjadi tantangan besar dalam mencegah penyebaran leptospirosis. Ia juga menyoroti pentingnya deteksi dini kepada masyarakat, termasuk skrining tikus-tikus sebagai indikator awal.

“Pemerintah sudah gencar mempromosikan PHBS, tapi kesadaran masyarakat tentang kebersihan diri dan lingkungan melalui pengelolaan sampah masih belum optimal. Tikus sangat menyukai lingkungan kotor, terutama area dengan sampah berserakan. Jika tikus di suatu daerah sudah positif leptospirosis, skrining terhadap tikus bisa mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB),” imbuhnya.

Dari sudut pandang epidemiologi, Titiek menilai kasus leptospirosis di DIY saat ini belum terkendali, mengingat jumlah kasus yang masih tinggi. Bahkan, menurutnya, masih ada double burden disease, di mana penyakit infeksi belum terkendali dan penyakit tidak menular meningkat. Titiek menyarankan agar strategi penanganan kesehatan masyarakat lebih terintegrasi dan berjangka panjang.

Tags: DIYLeptospirosistikusTitiek HidayatiUMY

Related Posts

Ilustrasi cuaca panas ekstrem

Waspadai Dampak Cuaca Panas Ekstrem, Bayi hingga Penyandang Sakit Kronis Berisiko Tinggi

July 7, 2026
Ilustrasi penyekapan.

Kasus Penyekapan di Bandung, Guru Besar UMY Ingatkan Pentingnya Perlindungan Korban

June 27, 2026
Ilustrasi pengelolaan Makan Bergizi Gratis atau MBG

BGN Berhenti Operasional Saat Libur Sekolah, Dosen UMY: Saatnya Evaluasi

June 22, 2026
Anggota Intel Polda DIY Diamankan Mahasiswa UMY, Begini Penjelasan Kampus dan Polisi

Anggota Intel Polda DIY Diamankan Mahasiswa UMY, Begini Penjelasan Kampus dan Polisi

June 22, 2026
Ratusan mahasiswa UMY menggelar aksi demonstrasi di Titik Nol Kilometer Malioboro, Kota Yogyakarta, pada Rabu (17/6/2026).

Merahkan Titik Nol Kilometer, Mahasiswa UMY Suarakan Delapan Tuntutan ke Pemerintah

June 19, 2026
Ilustrasi sarjana

Masuki Era Disrupsi, Prof Zuly: IPK Tinggi Saja Tak Cukup

May 27, 2026
Next Post
Dua tersangka kasus penelantaran bayi hingga meninggal saat dihadirkan di Mapolresta Sleman, Rabu (6/8/2025).

Sepasang Mahasiswa di Sleman Telantarkan Orok, Sebelum Dikubur Bayi Sempat Alami Kekerasan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]

9 SMP Negeri Terbaik di Sleman Berdasar Data Terbaru Tahun 2026

February 9, 2026
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

June 18, 2025
Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

June 4, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

June 12, 2025
SMP Negeri 5 Yogyakarta

7 SMP Negeri Terbaik di Kota Yogyakarta Berdasarkan Ranking TKA-TKAD 2026

May 6, 2026

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.