SLEMAN, POPULI.ID – Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, memastikan ketersediaan hewan kurban di Kabupaten Sleman dalam kondisi aman menjelang Iduladha 2026.
Kepastian tersebut disampaikan setelah Danang melakukan peninjauan ke sejumlah peternakan milik kelompok masyarakat serta Pasar Hewan Ambarketawang pada Selasa (5/5/2026).
Menurutnya, stok hewan kurban saat ini masih mencukupi kebutuhan masyarakat. Peningkatan pembelian diperkirakan baru akan terjadi mendekati Hari Raya Iduladha.
“Dari hasil pantauan, stok hewan kurban masih aman dan mencukupi. Untuk peningkatan permintaan kemungkinan terjadi mendekati hari kurban, sekitar tanggal 27,” ujarnya.
Meski stok aman, harga sapi di Sleman mengalami kenaikan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per ekor. Namun berdasarkan hasil koordinasi dengan pedagang, kenaikan tersebut dinilai masih dalam taraf wajar.
“Kenaikan antara 1 sampai 2 juta rupiah masih tidak memberatkan masyarakat untuk berkurban. Harga tetap terjangkau dan stok hewan kurban di Sleman mencukupi,” lanjutnya.
Data sementara menunjukkan ketersediaan hewan kurban di Sleman mencapai 3.800 ekor sapi, 4.000 ekor kambing, dan 2.700 ekor domba. Sementara kebutuhan sapi diperkirakan menjadi yang tertinggi, yakni sekitar 7.800 ekor berdasarkan estimasi Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman.
Untuk kambing, kebutuhan dipastikan dapat terpenuhi. Sedangkan permintaan domba diprediksi cukup tinggi hingga mencapai 15 ribu ekor.
“Kalau kambing aman, yang cukup tinggi permintaannya justru domba sekitar 15 ribuan. Kalau stok kurang, masyarakat bisa membeli dari kelompok ternak kampung, pasar hewan, atau pasar tiban di pinggir jalan,” katanya.
Di sisi lain, Pemkab Sleman melalui DP3 terus memperketat pengawasan kesehatan hewan kurban dengan pemantauan kandang ternak, vaksinasi, serta pengawasan penyakit seperti penyakit mulut dan kuku (PMK) dan antraks.
Kepala DP3 Sleman, Rofiq Andriyanto, mengatakan pihaknya masih meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran antraks maupun PMK, terutama dari wilayah perbatasan.
“Untuk antraks kami masih mewaspadai potensi dari Gunungkidul. Tindak lanjutnya, awal April lalu kami lakukan vaksinasi di wilayah Gayamharjo dan Sambirejo, Kapanewon Prambanan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kasus PMK di Sleman terus menurun dan kini rata-rata hanya ditemukan dua kasus per bulan. Meski demikian, vaksinasi rutin tetap dilakukan setiap enam bulan.
“Untuk PMK alhamdulillah terus menurun, rata-rata hanya dua ekor per bulan. Vaksinasi tetap kami lakukan setiap enam bulan,” jelasnya.
Selain vaksinasi, DP3 juga melakukan penyemprotan desinfektan terhadap hewan yang masuk ke pasar hewan serta pemeriksaan kesehatan sebelum dan sesudah penyembelihan.
Dalam pengawasan hewan kurban tahun ini, DP3 Sleman juga menggandeng Fakultas Peternakan UGM untuk membantu pemeriksaan kesehatan hewan.
“UGM akan menerjunkan sekitar 50 sampai 70 orang yang akan disebar ke seluruh Sleman. Kami juga memiliki 24 dokter hewan dan didukung penyuluh lapangan, insyaallah cukup,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Koperasi Ternak Sapi Karya Tunggal, Trisno Dulrahman, menyebut saat ini pihaknya menyediakan sekitar 40 ekor sapi jenis PO dan limousin, dengan 18 ekor diantaranya telah terjual.
Harga jual sapi rata-rata berada di kisaran Rp25 juta hingga Rp28 juta per ekor. Pembeli mayoritas berasal dari wilayah sekitar Sleman.
“Pembeli rata-rata dari Sidoarum dan sekitarnya, kalau luar kota belum ada. Kami ambil sapi dari Pasar Hewan Ambarketawang,” ujarnya.
Menurutnya, jenis sapi yang paling diminati pembeli adalah limosin karena ukuran tubuhnya besar dan dagingnya lebih padat.
“Yang paling banyak dicari jenis limousin karena dagingnya padat dan ukuran badannya besar,” pungkasnya. (populi.id/Hadid Pangestu)












