SLEMAN, POPULI.ID – Kondisi kualitas air sungai di Kabupaten Sleman dinilai masih memprihatinkan. Pencemaran disebut cukup tinggi dengan sumber yang beragam, mulai dari limbah domestik hingga aktivitas usaha di bantaran sungai.
Ketua Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS), Agustinus Irawan, menegaskan bahwa persoalan sungai bukan hanya soal kualitas air, tetapi juga menyangkut aspek sosial, budaya, hingga mitigasi bencana.
“Kualitas air sungai masih buruk. Pencemaran sungai cukup tinggi. Sumber pencemar cukup banyak dan beragam, dari limbah domestik hingga UMKM seperti warung, laundry, jasa cucian mobil, motor, karpet, serta usaha kuliner yang jumlahnya cukup banyak,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (3/3/2026).
Ia menyebut sejumlah usaha tersebut berada di pinggir sungai dan belum dilengkapi instalasi pengolahan air limbah (IPAL), sehingga berpotensi langsung membuang limbah ke badan sungai.
Enam Persoalan Sungai
Menurut Agustinus, FKSS telah memetakan enam persoalan sungai yang perlu dikenal luas oleh masyarakat, khususnya warga yang tinggal di bantaran sungai.
“Kami di FKSS sudah memetakan ada enam persoalan sungai yang harus dikenal publik, terutama yang tinggal di pinggir atau bantaran sungai,” jelasnya.
Enam persoalan tersebut meliputi: Morfologi sungai, terkait bentuk dan karakter fisik alur sungai. Ekologi sungai, menyangkut keseimbangan ekosistem dan kualitas lingkungan. Sosiologi sungai, yang berkaitan dengan perilaku serta interaksi masyarakat dengan sungai.
“Kami juga berfokus merawat nilai religi atau budaya merawat sungai, sebagai nilai-nilai kearifan lokal dalam menjaga kelestarian sungai,” katanya.
Pihaknya juga berfokus melakukan Mitigasi tragedi sungai, seperti banjir dan bencana lain yang berhubungan dengan aliran sungai. Selain itu, Mitologi sungai, yang menjadi bagian dari narasi dan pemaknaan masyarakat terhadap sungai juga menjadi bagian yang diperhatikan.
Agustinus menekankan, sungai harus dipahami secara utuh, bukan sekadar sebagai saluran air atau tempat pembuangan limbah.
“Singkatnya, masyarakat harus paham dan jangan gagap dengan sungai. Mulai dan terus peduli dengan sungai sebagai penyedia air dan penyangga hidup,” tegasnya.
Ia menambahkan, sungai memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, termasuk sebagai pengendali udara dan suhu atau iklim di wilayah sekitarnya.
Kolaborasi Pulihkan Kualitas Air
Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup Sleman (DLH) juga menyatakan kualitas air di 11 sungai Sleman belum sepenuhnya memenuhi standar baku mutu karena masih ditemukan cemaran E. coli.
Plt Kepala DLH Sleman, Sugeng Riyanta, menyebut pihaknya terus melakukan inventarisasi sumber pencemar serta mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memulihkan kualitas air.
Dengan adanya komunitas seperti FKSS dan dukungan pemerintah daerah, diharapkan kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga sungai semakin meningkat dan berdampak pada perbaikan kualitas lingkungan di Sleman ke depan.
“Kami membentuk Forum Komunitas Sungai Sleman, ini sudah terbentuk 8 tahun lalu dan komunitasnya di kabupaten Sleman kita verifikasi 31 komunitas,” katanya.
“Komunitas ini telah membantu kami dalam. pengendalian kualitas air sungai bersih sungai yang difasilitasi oleh APBD Sleman melalui DLH Sleman,” katannya.
Disebutnya di seluruh Sleman, masih terdapat 6 Kapanewon yang belum memiliki komunitas ini. Ia berharap pada tahun-tahun mendatang dapat kembali dibentuk. (populi.id/Hadid Pangestu)












![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)