YOGYAKARTA, POPULI.ID — Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, melakukan bedah rumah terhadap hunian milik warga RT 04 RW 12, Kelurahan Panembahan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta, Minggu (3/5/2026).
Program tersebut menyasar rumah milik Rachmat Subagyono yang mengalami kerusakan cukup berat dan dinilai membahayakan keselamatan penghuni.
Rachmat mengungkapkan, rumah yang ditempatinya bersama istri dan dua anaknya itu telah lama mengalami kerusakan, namun belum dapat diperbaiki karena keterbatasan biaya. Ia menyebut kerusakan paling parah terdapat pada bagian tembok sisi timur rumah yang terbelah serta struktur kayu bangunan yang telah lapuk dimakan usia.
“Waktu itu sebenarnya ingin memperbaiki, tetapi tidak ada biaya yang cukup karena kerusakannya terlalu parah. Tembok rumah samping sampai terbelah, kemungkinan pondasinya turun. Rumah ini sudah sangat lama, sejak zaman eyang, komposisi semennya masih banyak gamping, belum memakai tulang besi, dan kayu-kayunya juga sudah keropos,” kata Rachmat.
Ia menambahkan, selama ini kerusakan hanya ditutup menggunakan lapisan semen, namun kondisi struktur dalam bangunan sebenarnya sudah rapuh. Menurutnya, bagian yang paling mengkhawatirkan berada di area kamar tidur anak karena terdapat retakan besar pada tembok dan dudukan atap yang berpotensi roboh sewaktu-waktu.
“Yang paling parah di bagian timur. Posisi retakan ada di kamar tidur anak, jadi sangat mengkhawatirkan. Takut roboh karena dudukannya benar-benar sudah terbelah,” ujarnya.
Rachmat mengaku sangat bersyukur atas bantuan yang diberikan. Sebagai wiraswasta dengan penghasilan tidak menentu, ia selama ini kesulitan menyisihkan dana untuk renovasi rumah.
“Kalau wiraswasta itu pasang surut, kadang ada masa sepi sampai berhari-hari tidak dapat uang. Ekonomi makin susah, jadi bantuan ini sangat membantu agar rumah kami lebih aman ditempati,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pengajuan bantuan rehab rumah tersebut sebelumnya disampaikan melalui pengurus wilayah setempat dan kemudian mendapat respons dari berbagai pihak hingga akhirnya direalisasikan.
Ketua Tuwanggana Panembahan, Herawati, mengatakan proses rehabilitasi rumah akan dilakukan secara gotong royong oleh warga RT 04 dan sekitarnya selama kurang lebih 20 hari. Perbaikan mencakup penggantian kayu yang lapuk, genteng, serta sejumlah bagian rumah lain yang sudah tidak layak.
“Kerja bakti warga akan dilaksanakan untuk memperbaiki bagian-bagian rumah yang rusak, termasuk kayu lapuk dan genteng yang perlu diganti. Rehab rumah ditargetkan selesai dalam 20 hari,” jelasnya.
Herawati menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membantu mewujudkan program tersebut, termasuk Pemerintah Kota Yogyakarta dan pihak swasta seperti Pamella Supermarket yang turut memberikan kontribusi.
“Kami dengan tulus berterima kasih karena usulan kami diterima, khususnya oleh Pak Wali Kota. Kami juga berterima kasih kepada seluruh OPD, mitra, dan pihak yang ikut membantu,” katanya.
Sementara itu, Hasto Wardoyo menegaskan bahwa program bedah rumah tersebut bukan hanya tentang memperbaiki bangunan fisik, melainkan juga memperkuat nilai gotong royong dan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
“Semangat gotong royong yang kita petik hari ini sangat penting. Ini berada di pusat Kota Yogyakarta, tepat di jantung Kecamatan Kraton, dan saya berharap gotong royong di Kraton bisa menjadi contoh bagi wilayah lain,” ujarnya.
Hasto mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk RT dan RW, untuk terus menghidupkan budaya saling membantu di lingkungan masing-masing.
“Bukan hanya rumahnya yang menjadi bagus, tetapi yang lebih penting adalah makna gotong royongnya. Kita tidak sekadar membangun fisik rumah, tetapi juga melakukan rekonstruksi sosial dan memperkuat kebersamaan,” katanya.
Ia juga mengingatkan para pejabat dan aparatur pemerintah agar lebih peduli terhadap kondisi masyarakat di lingkungan sekitar, khususnya warga yang tinggal di kawasan perkotaan namun masih hidup dalam keterbatasan.
“Tidak ada gunanya para pejabat memiliki rumah mewah kalau rumah warganya justru hampir ambruk,” tegas Hasto. (populi.id/Hadid Pangestu)












