YOGYAKARTA, POPULI.ID – Pemerintah Kota Yogyakarta bergerak cepat menyiapkan hotline pengaduan dan konsultasi hukum untuk mendampingi para korban kekerasan anak di Daycare Little Aresha Yogyakarta. Tercatat sebanyak 130 orang tua telah mengakses hotline pengaduan tersebut.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyebut banyak orang yang telah mengakses layanan pengaduan lewat helpdesk tersebut. Namun berdasarkan pendataan, terdapat sebanyak 104 orang tua yang anaknya dititipkan ke daycare tersebut dan membutuhkan pendampingan.
“Meskipun yang berkomunikasi lewat helpdesk banyak, tetapi tidak mesti itu orang tuanya. Tapi intinya yang punya anak dan membutuhkan pendampingan angkanya 104 orang,” ucapnya, Rabu (29/4/2026).
Hasto mengungkapkan bahwa kondisi orang tua korban saat ini masih emosional mengetahui fakta di balik tindakan tak manusiawi daycare tersebut. Dia pun memahami jika orang tua ingin memastikan hukum ditegakkan seadil-adilnya.
Tak hanya pendampingan hukum, pihaknya juga bakal memastikan para korban anak mendapatkan pendampingan psikologi hingga kesehatan fisik termasuk tumbuh kembangnya. Disampaikan belasan psikolog telah dibagi untuk memberikan pendampingan trauma kepada korban anak.
“Rata-rata satu psikolog bisa menangani 4 atau 5 orang. Kemudian kami juga menambah dokter anak ahli tumbuh kembang. Dari 104 anak itu mungkin satu dokter bisa mengampu misal 20 atau 30 anak. Saya akan mencari dokter-dokter anak yang punya jiwa volunteer untuk mengawal anak-anak tersebut,” tambahnya.
Menurutnya, pengawalan kesehatan fisik dan tumbuh kembang anak menjadi hal krusial mengingat banyak orang tua yang mengeluhkan si buah hati didiagnosa terkena pneumonia. Bahkan pihaknya menemukan kasus resiko stunting pada anak berusia 36 bulan, karena hanya memiliki berat badan 10 kilogram.
“Itu kan di bawah garis merah, yang seperti itu harus kami lakukan pendapingan supaya berat badannya naik lagi. Jadi harus ada intervensi gizi,” katanya.
Hasto menyebut lamanya proses pengembalian tumbuh kembang anak ke kondisi normal tergantung keterlambatan pertumbuhan serta perkembangan masing-masing anak. Akan tetapi, lanjutnya, jika tidak ada underlying problem (akar masalah), maka pengembalian berat badan anak bisa dilakukan dalam waktu sekitar tiga bulan.
“Kalau untuk keterlambatan perkembangan kecerdasan motorik semisal umur 3 tahun belum bisa membedakan warna. Kalau anak tidak ada kelainan tertentu, lalu ditreatment sekitar 6 bulan, mungkin bisa membaik. Tapi aklau ada speed delay, maka butuh waktu lebih lama, jadi masing-masing anak berbeda,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hasto mengaku siap mengawal korban anak-anak untuk melakukan screening dan pemeriksaan jika ditemukan dugaan diberi obat tidur saat dititipkan di Daycare Little Aresha.
“Ya kalau memang diindikasikan begitu (anak diberi obat tidur), kami siap untuk memeriksakan anak-anak,” tegasnya.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Riski Adrian, membeberkan ada kemungkinan korban anak diberikan obat tidur oleh pengasuh daycare agar memudahkan tidak rewel. Namun, kemungkinan tersebut masih akan didalami dan berkoordinasi dengan stakeholder terkait.
“Terkait masalah obat dan psikiater ada kemungkinan, namun penyidik tidak punya kemampuan itu (untuk memastikan). Jadi nanti kami akan berkolaborasi dengan UPT DPPA yang mudah-mudahan bisa mendapatkan bukti,” tuturnya. (populi.id/Dewi Rukmini)











