YOGYAKARTA, POPULI.ID — Kondisi memprihatinkan dialami Koniadi (52), warga Purwanggan, Purwokinanti, Pakualaman, Kota Yogyakarta. Selama puluhan tahun ia tinggal di rumah reyot berdinding anyaman bambu lapuk dan beratap bocor bersama keluarganya.
Hunian berukuran sekitar 7 x 10 meter itu ditempati Koniadi bersama sejumlah adik ipar dan anaknya. Hampir seluruh bagian rumah mengalami kerusakan parah. Lubang terlihat di berbagai sisi dinding, sementara genteng yang mulai menghitam tampak sudah lama tak pernah diganti. Lantai semen di dalam rumah pun terlihat usang.
Saat hujan turun, air masuk hampir ke seluruh ruangan rumah.
“Kalau bocor yang kena semua, kamar, pawon (dapur). Kalau mau dinaikin ini udah nggak kuat. Sehingga kita bingung mau berbuat apa,” kata Koniadi saat diwawancarai, Minggu (10/5/2026).
“Kalau banjir nggak masalah, kalau hujan bocor trocoh iya, soalnya atapnya tidak layak semua. Mau ke tetangga juga rikuh (tidak enak),” imbuhnya.
Koniadi menceritakan rumah tersebut merupakan milik istrinya. Pada 1986 silam, kebakaran sempat melanda bangunan itu. Namun setelah kejadian tersebut, kondisi rumah tak pernah benar-benar tersentuh perbaikan karena keterbatasan biaya.
Bantuan sempat datang sekitar tahun 2019 sebelum pandemi Covid-19. Saat itu, ia memperoleh bantuan pembangunan fasilitas Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK) melalui program TMMD. Meski demikian, bantuan tersebut belum mampu mengatasi kondisi bangunan utama yang terus memburuk.
Keinginannya untuk memperbaiki kerusakan kecil di rumah pun belum bisa terwujud. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia juga harus menerima kenyataan pahit kehilangan sang istri akibat gagal ginjal.
Kesedihan itu semakin terasa karena ia merasa belum mampu memberikan tempat tinggal yang layak hingga akhir hayat istrinya.
Perhatian terhadap kondisi Koniadi kemudian datang dari jajaran Satpol PP Kota Yogyakarta. Ia mengaku sempat didatangi pejabat Satpol PP saat takziah kematian istrinya.
“Pas istri saya meninggal dunia, Pak Kasatpol PP dan Pak Kabid Bidang Linmas takziah, sehabis sholat jenazah melihat dari luar kondisi rumah saya,” katanya.
“Beliau mencari saya dan menawarkan bantuan untuk rumah saya diperbaiki. Saya kemudian diminta ke Kantor Satpol PP dan Baznas Kota Yogyakarta untuk mempersiapkan syaratnya,” lanjutnya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari pihak kelurahan, harapan baru akhirnya datang bagi Koniadi. Rumah yang nyaris roboh itu direncanakan dibangun ulang mulai Minggu (10/5/2026).
Sementara itu, Hasto Wardoyo mengatakan Pemerintah Kota Yogyakarta terus bergerak mengentaskan persoalan rumah tidak layak huni di wilayah perkotaan.
Ia menyebut dukungan berbagai pihak, termasuk Baznas Kota Yogyakarta, sangat membantu proses perbaikan rumah warga kurang mampu.
“Kita diminta mendukung programnya Pak Presiden 3 juta rumah, harapan saya bedah rumahnya tahun ini bisa mencapai 200 rumah,” kata Hasto.
Hasto juga menceritakan pengalamannya saat menemukan kondisi rumah warga yang melebihi kapasitas di kawasan Pringgokusuman.
“Sebelumnya kita juga mendapati dalam satu rumah isinya 13 orang, sampai kita harus mengadakan acara di dalam kamar,” katanya.
“Kami berdiri di kasur saking ngantuknya tidurnya digilir, satu orang tidur sampai acara selesai, nggak bangun saking ngantuknya,” lanjut mantan Bupati Kulon Progo tersebut.
Ia berharap seluruh pihak terus berkomitmen membantu masyarakat yang masih tinggal di rumah tidak layak huni.
Kini, setelah puluhan tahun tinggal di rumah reyot, Koniadi berharap keluarganya bisa menjalani hidup lebih tenang di tempat tinggal yang aman dan layak.












