JAKARTA, POPULI.ID – Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, kini tengah menghadapi tekanan hukum yang berat.
Jaksa penuntut umum (JPU) menuntut Nadiem dengan hukuman 18 tahun penjara serta denda Rp 1 miliar dalam kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM).
Selain hukuman badan, Nadiem juga dituntut membayar uang pengganti dengan nilai fantastis mencapai Rp 5,6 triliun.
Kondisi kesehatan Nadiem pun dilaporkan sempat menurun. Usai pembacaan amar tuntutan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat pada Rabu (13/5/2026), Nadiem langsung menjalani operasi medis pada malam harinya dan kini tengah dalam masa pemulihan.
Di tengah situasi ini, sang istri, Franka Franklin, mengungkapkan perjuangan personalnya dalam menjaga keutuhan keluarga dan mental keempat anak mereka.
Dalam siniar di kanal YouTube Daniel Mananta Network, Franka mengenang momen 4 September 2025 silam sebagai hari yang sangat berat bagi fisiknya. Saat itu, ia dan Nadiem sedang menikmati liburan berdua di luar negeri. Itu adalah liburan pertama mereka tanpa anak-anak dalam lima tahun terakhir. Namun, begitu mendengar kabar adanya penyidikan, Nadiem memutuskan untuk segera kembali ke tanah air.
“Kita dengar ada ini (penyidikan), Nadiem langsung bilang ‘kita pulang’. Kita harus balik di Indonesia,” ujar Franka menceritakan reaksi suaminya saat itu, dikutp Kamis (14/5/2026).
Setibanya di Jakarta, Nadiem langsung dibawa untuk menjalani proses hukum.
Bagi Franka, tantangan emosional terbesar justru muncul tiga hari setelah penahanan suaminya. Ia mengaku sempat menahan diri untuk tidak menceritakan kondisi sebenarnya kepada keempat anak mereka yang masih kecil, yang tertua berusia 7 tahun dan yang terkecil baru berusia 1 tahun.
Franka akhirnya memilih memberikan penjelasan yang jujur namun sederhana agar anak-anaknya merasa aman. Kepada anak-anak, ia menjelaskan bahwa ayah mereka harus membantu pemerintah memberikan penjelasan mengenai pekerjaannya dulu.
“Dada (Nadiem) harus tinggal di kantornya dan dengan itu dia bisa menjelaskan lebih banyak dan sebanyak-banyaknya lah istilahnya sampai ini semua selesai dan dia bisa pulang,” ucap Franka mengulang kalimat yang ia sampaikan kepada anaknya.
Meski anak-anaknya menunjukkan resilience, Franka mengakui ada momen menghancurkan hati saat menjenguk di rumah tahanan (rutan). Ia menceritakan bagaimana anak ketiganya menangis karena tidak ingin pulang dan bertanya mengapa ayahnya tidak bisa menginap bersama mereka.
Selama Nadiem berada di dalam rutan, keterbatasan komunikasi memaksa pasangan ini kembali ke cara tradisional untuk tetap terhubung. Franka mengungkapkan bahwa ia dan Nadiem rutin saling bertukar surat tulisan tangan.
Menurut Franka, surat-menyurat ini menjadi momen untuk slowing down dan melakukan refleksi mendalam. Ia memilih menulis tangan secara personal agar Nadiem bisa merasakan kehadirannya meskipun terpisah jarak.
“Dia banyak banget bersurat dan saya balasnya juga pakai surat tangan. Saya pengen tulis tangan supaya dia juga bisa merasakan how I feel in that moment untuk nulis ke dia,” jelas Franka.
Menghadapi tuntutan triliunan rupiah dan belasan tahun penjara, Franka menegaskan bahwa ia tidak pernah meragukan suaminya sedikit pun. Baginya, integritas adalah nilai yang telah mendarah daging dalam diri Nadiem selama 20 tahun mereka bersama, terutama karena Nadiem tumbuh di keluarga aktivis anti-korupsi.
“Never, tidak pernah (menduga Nadiem melakukan yang dituduhkan). Enggak mungkin karena saya kenal dia, saya tahu dia, saya tahu motivasi apa yang menggerakkan hidupnya dari dia umur awal 20 sampai sekarang,” tegas Franka.












