YOGYAKARTA, POPULI.ID – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai berdampak pada sektor pangan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Seperti diketahui, dalam beberapa hari terakhir nilai tukar rupiah menembus level Rp17.500 per dolar AS, menjadikan terendah dalam sejarah rupiah.
Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Disperindag DIY, Lukis Wahono, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah itu dipicu meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia.
“Kondisi itu juga memicu kenaikan harga komoditas pangan yang masih bergantung pada impor, semisal gandum, gula mentah, bawang putih, hingga kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe,” katanya, saat dihubungi Jumat (15/5/2026).
Dia tak menampik, para pelaku usaha tahu dan tempe perlu putar otak untuk mengurangi biaya produksi imbas kenaikan harga tersebut. Di antaranya mengganti penggunaan plastik dengan daun pisang untuk pembuatan tempe.
Melihat kondisi itu, Disperindag DIY menilai intervensi dari pemerintah pusat sangat dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan usaha hilir.
“Memang diperlukan bantuan pemerintah untuk memberikan subsidi, khususnya komoditas kedelai. Ke depan juga perlu optimalisasi produktivitas kedelai lokal untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri,” ujarnya.
Meski dibayangi kenaikan harga, Disperindag DIY memastikan stok kedelai impor di pasaran dalam kondisi aman. Menurut data Proyeksi Neraca Pangan DIY pada Mei 2026, jumlah ketersediaan komoditas kedelai sebanyak 3.552 ton. Sedangkan jumlah kebutuhan kedelai di DIY mencapai 3.313 ton, sehingga masih surplus sebanyak 239 ton.
Disperindag DIY pun telah menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan semisal minyak goreng, beras, gula pasir di pasar. Antara lain melaksanakan operasi pasar dengan menggandeng stakeholder dan memberikan subsidi distribusi barang.
Selain itu, pihaknya juga bersinergi dan berkolaborasi dengan BUMN pangan untuk memasok komoditas MinyaKita maupun beras SPHP di pasar rakyat wilayah DIY.
“Kami mengimbau kepada para pedagang untuk tidak menimbun barang dagangan serta mendorong masyarakat tidak panic buying dan berbelanja sesuai kebutuhan,” tandasnya.
Lakukan Pemantauan
Kepala Bidang Ketersediaan Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan Disdag Kota Yogyakarta, Sri Riswati, mengungkapkan bahwa harga kedelai impor mengalami lonjakan signifikan dari Rp9.800 menjadi Rp10.500 per kg.
“Kenaikan harga kedelai impor sudah lama sebelum ada kenaikan harga plastik, dari Rp9.800 menjadi Rp10.500. Saat ini masih stabil di harga itu,” ucap Sri Riswati saat dihubungi Jumat (15/5/2026).
Dia mengatakan, kenaikan harga kedelai membuat perajin tahu dan tempe di Kota Yogyakarta harus putar otak. Alih-alih menaikkan harga, para perajin lebih memilih mengurangi gramasi atau ukuran produk agar harga tahu dan tempe tetap stabil.
Terbukti berdasarkan data Disdag Kota Yogyakarta, harga tahu dan tempe stabil di angka Rp12.000 dan Rp15.000 per kg. Begitu juga dengan harga komoditas lain dikatakan masih stabil meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sedang melemah.
Kendati demikian, Disdag Kota Yogyakarta akan mengambil langkah antisipasi untuk memastikan tidak terjadi praktik penimbunan barang yang dapat memicu kelangkaan serta kenaikan harga tak wajar. Upaya yang dilakukan antara lain memperketat pemantauan di tingkat distributor.
“Kami akan tingkatkan pemantauan di distributor. Untuk memastikan tidak terjadi penimbunan yang akan berdampak pada isu kelangkaan dan kurangnya pasokan. Sehingga kenaikan harga tidak wajar dapat diantisipasi atau tidak terjadi,” jelasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)











