YOGYAKARTA, POPULI.ID – Pemerintah Kota Yogyakarta tengah mengupayakan izin palilah kepada Panitikismo terkait lahan yang akan dimanfaatkan sebagai pusat pengembangan Koperasi Merah Putih. Total lahan yang diajukan mencapai 3.000 meter persegi dan direncanakan berada di Kemantren Umbulharjo.
Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto, mengatakan proses pengajuan masih berjalan karena pemerintah ingin memastikan lahan yang digunakan benar-benar siap dan bebas persoalan.
“Pemkot Yogyakarta sedang berproses terkait lahan ke Panitikismo. Luasnya sekitar 3.000 meter persegi untuk gerai Koperasi Merah Putih,” ujar Tri saat ditemui di Kelurahan Gunungketur, Kemantren Pakualaman, Sabtu (16/5/2026).
Ia menegaskan, kesiapan lahan menjadi hal penting karena harus memiliki lokasi yang strategis serta aman dari potensi sengketa di kemudian hari.
“Dari sisi lahan harus benar-benar clear and clean, baik letaknya, strategisnya, maupun persoalannya. Harapannya tidak ada kendala ke depan,” katanya.
Selain mempersiapkan lokasi, Pemkot Yogyakarta juga terus mendorong Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) agar segera menjalankan aktivitas usaha dengan memanfaatkan tempat usaha yang telah dimiliki pengurus masing-masing.
Saat ini, sebanyak 32 Koperasi Merah Putih tercatat telah menjalankan kegiatan usaha. Sejumlah koperasi bergerak di bidang penjualan sembako, layanan laku pandai, hingga bekerja sama dengan hotel dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Tri, koperasi tidak hanya dinilai aktif dari sisi usaha, namun juga dari tata kelola organisasi, termasuk pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT).
“Program KDMP sudah berjalan satu tahun. Koperasi disebut aktif apabila sudah memberikan pertanggungjawaban kepada anggota melalui RAT,” ujarnya.
Pemkot menargetkan seluruh Koperasi Merah Putih sudah aktif berbisnis pada akhir Mei 2026. Salah satu yang dinilai berkembang adalah Koperasi Merah Putih Gunungketur yang fokus mengembangkan produk batik lokal.
“Gunungketur sebenarnya punya beberapa jenis usaha, tetapi yang paling menonjol adalah produksi batik karena SDM, IKM, dan ekosistemnya sudah terbentuk,” kata Tri.
Ia menjelaskan, pengembangan KDMP memang diarahkan sesuai potensi lokal di masing-masing wilayah agar lebih mudah berkembang dan melibatkan pelaku usaha setempat.
“Kami mendorong KDMP berdasarkan potensi wilayah. Di Gunungketur potensinya batik, sehingga para pengrajin diarahkan menjadi anggota koperasi,” imbuhnya.
Dengan konsep tersebut, pengelolaan usaha batik diharapkan lebih terintegrasi, terutama dalam pemasaran dan distribusi produk.
“Jadi koperasi yang mengelola pemasaran dan produknya, sehingga pengrajin tidak berjalan sendiri-sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menyebut perkembangan Koperasi Merah Putih di Kota Yogyakarta menunjukkan hasil yang positif, khususnya pada sektor batik
Menurut Hasto, saat ini koperasi telah memiliki delapan unit pengecapan batik yang melayani kebutuhan seragam batik Segoro Amarto bagi sekitar 6.500 aparatur sipil negara (ASN).
“Sekarang aktivitas Koperasi Merah Putih sudah berjalan bagus. Sudah ada delapan unit pengecapan batik untuk melayani seragam Segoro Amarto,” ujarnya.
Tak hanya itu, pada tahap berikutnya koperasi juga disiapkan untuk memenuhi kebutuhan seragam batik bagi sekitar 65 ribu pelajar di Kota Yogyakarta.
Hasto mengatakan penguatan koperasi menjadi salah satu strategi untuk menghidupkan kembali UKM dan pengrajin batik di Kota Yogyakarta sebagai kota batik.
“Dulu saat mencari pengecap batik cap untuk seragam cukup sulit, sekarang sudah ada delapan titik,” katanya.
Ke depan, koperasi diharapkan mampu menjadi pusat pengelolaan dan distribusi kebutuhan batik di Kota Yogyakarta sekaligus memperkuat pengrajin lokal.
Selain sektor batik, lahan yang tengah diproses tersebut juga akan dimanfaatkan untuk pengembangan pertanian dan perikanan terpadu. Dari total 3.000 meter persegi, sekitar 1.000 meter persegi direncanakan untuk infrastruktur koperasi, 1.000 meter persegi untuk bioflok budidaya lele, dan sisanya digunakan untuk integrated farming.
“Nantinya sampah rumah tangga akan diolah menjadi pupuk untuk dijual, sehingga sekaligus membantu penanganan sampah,” pungkas Hasto. (populi.id/Hadid Pangestu)












