SLEMAN – Tidak semua orang memulai hidup dari garis start yang sama. Ada yang berlari dengan bekal cukup, ada pula yang harus terlebih dahulu mencari pijakan agar sekadar bisa berdiri. Bambang Sigit Sulaksana memilih jalan yang kedua.
Ia tidak memulai perjalanan hidupnya dari angka nol. Ia mengaku berangkat dari titik minus. Kondisi keluarga yang sederhana selepas lulus SMA membuatnya harus berjuang lebih keras untuk mewujudkan satu cita-cita sederhana: kuliah.
Kini, namanya dikenal sebagai politikus di Kabupaten Sleman. Bambang dipercaya menjadi Ketua Fraksi PDIP DPRD Sleman sekaligus Ketua Komisi C DPRD Sleman.
Namun, jauh sebelum duduk di kursi parlemen, hidupnya justru ditempa dari perjuangan yang sunyi. Kisah tersebut ia ceritakan dalam program Titik Nol, sebuah program yang mengupas perjalanan hidup para figur publik dari sisi yang mungkin jarang diketahui masyarakat.
Setahun Menjadi Apa Saja, Asal Bisa Kuliah
Tahun 1985 menjadi salah satu fase penting dalam kehidupan Bambang. Selepas menyelesaikan pendidikan di SMA BOPKRI I Yogyakarta, ia tidak langsung bisa melanjutkan kuliah. Kondisi ekonomi keluarga membuatnya harus menunda langkah. Selama kurang lebih satu tahun, Bambang menjalani berbagai pekerjaan serabutan.
Bukan karena cita-citanya kecil. Justru karena ia memiliki mimpi besar, tetapi sadar bahwa mimpi itu membutuhkan perjuangan. Ia kemudian mengikuti Sipenmaru dan pada 1986 diterima di Fakultas Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM). Kesempatan itu tidak datang dengan mudah. “Waktu itu masuk bayar Rp105 ribu,” kenangnya.
Jumlah tersebut mungkin terlihat sederhana hari ini. Namun bagi Bambang muda dari keluarga sederhana, angka itu menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan. Di tengah keterbatasan, seorang pendeta kemudian memberikan dukungan agar dirinya bisa melanjutkan pendidikan. Bambang pun tidak ingin hanya menerima bantuan. Ia memilih berusaha sendiri.
Sembari kuliah, ia mengajar privat untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan. “Kuliah dijalani, pekerjaan dikerjakan. Waktu dibagi, tenaga diperas, tetapi cita-cita tetap dijaga.
Dari Les Privat hingga “Successfull Study Club”
Perjalanan Bambang tidak berhenti pada mengajar privat seorang diri. Ia kemudian merintis lembaga les privat bernama “Successfull Study Club”. Dari sana, ia mulai mengajak mahasiswa lain untuk ikut membantu mengajar. Sebuah usaha kecil yang lahir dari kebutuhan akhirnya berkembang menjadi ruang bagi mahasiswa lain untuk bersama-sama mengajar dan mencari pengalaman.
Di tengah perjuangan itu pula, ada kisah lain yang perlahan menemukan jalannya.
Kisah tentang seseorang yang kelak menjadi pendamping hidupnya, Maria Yohana Esti Wijayati yang mana Bambang mengenal Esti sejak masih duduk di bangku SMP. Keduanya pernah bertemu dalam kegiatan Pramuka dan mengikuti Jambore pada 1981.
Setelah itu, keduanya sempat kehilangan kontak. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali ketika sama-sama menjalani masa kuliah. Menariknya, pertemuan tersebut bukan terjadi ketika keduanya sudah berada dalam kehidupan yang mapan.
Justru sebaliknya. Bambang dan Esti dipertemukan dalam keadaan sama-sama memahami bagaimana rasanya berjuang dari keterbatasan. Esti Wijayati kemudian dikenal sebagai politikus dan saat ini menjadi Anggota DPR RI dapil Daerah Istimewa Yogyakarta.
Melamar dengan Uang Pinjaman
Kisah cinta Bambang dan Esti pun tidak berjalan dengan kemewahan. Ketika ingin melamar Esti, Bambang bahkan harus meminjam uang kepada seorang teman. “Saya lamar Bu Esti saja pakai duit utangan, pinjam teman saya untuk bisa melamar istri saya,” tutur Bambang.
Kalimat sederhana itu justru menggambarkan bagaimana dirinya menjalani kehidupan.
Tidak banyak kemewahan. Tidak ada jalan pintas. Yang ada adalah keberanian untuk memulai, kesediaan untuk berjuang dan keyakinan bahwa kehidupan harus dijalani dengan tanggung jawab.
Dari perjalanan tersebut, Bambang dan Esti membangun keluarga hingga dikaruniai tiga anak.
Kini, ketiga anaknya telah tumbuh dan sukses dengan jalan hidup masing-masing.
Politik Datang Belakangan
Menjadi politisi sebenarnya bukan cita-cita yang sejak awal digenggam Bambang.
Ia mengaku tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi calon anggota dewan.
Awal mula perkenalannya dengan dunia politik justru terjadi ketika berada di lingkungan kantor DPD. Saat itu terjadi peristiwa “Kuda Tuli”, sebuah peristiwa politik yang kemudian menjadi salah satu titik yang memperkenalkan dirinya lebih jauh pada dunia politik.
Dari sana, perjalanan politik Bambang perlahan terbentuk. “Tidak instan,tidak tiba-tiba, kami jalani politik ini Bersama dan mengalir” jelasnya.
Seperti kehidupannya sejak muda, semuanya dilalui melalui proses.
Hingga kemudian kepercayaan itu datang. Bambang dipercaya menjadi Ketua Fraksi DPRD Sleman dan Ketua Komisi C DPRD Sleman.
Dua posisi yang tidak hanya membawa nama, tetapi juga tanggung jawab besar kepada masyarakat.
Santun dalam Sikap, Tegas Menjaga Integritas dalam Pekerjaan
Mereka yang mengenal Bambang menggambarkan dirinya sebagai sosok yang sederhana, santun, romantis dalam keluarga, namun tegas selalu menjaga integritas ketika menjalankan pekerjaan.
Perpaduan itu mungkin terbentuk dari perjalanan hidupnya.
Keterbatasan mengajarinya untuk rendah hati.
Perjuangan mengajarinya untuk tidak mudah menyerah.
Sedangkan dunia politik mengajarinya bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi bagi banyak orang.
Karena itu, ada satu prinsip yang terus ia pegang hingga kini. “Prinsip saya Jangan makan uang rakyat,” Ujar Bambang Sigid. Prinsip tersebut terdengar sederhana, tetapi bagi Bambang menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan, terutama ketika dirinya dipercaya menjadi wakil rakyat.
Dari Titik Minus, Menjadi Pelajaran Hidup
Perjalanan Bambang Sigid Sulaksana pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana seseorang bisa mencapai posisi politik.
Lebih dari itu, kisahnya adalah tentang seorang anak muda dari keluarga sederhana yang memilih tidak menyerah pada keadaan.
Ia pernah berada pada posisi harus bekerja serabutan demi bisa kuliah.
Ia pernah mengajar privat untuk bertahan.
Ia pernah merintis usaha kecil bersama mahasiswa lain.
Ia pernah melamar perempuan yang dicintainya dengan uang pinjaman.
Pada hari ini, Bambang Sigid Sulaksana berdiri sebagai seorang politikus yang dipercaya menduduki posisi strategis di DPRD Sleman. Jika kehidupan memiliki garis start, Bambang mungkin tidak memulainya dengan bekal yang lengkap.
Tetapi ia membuktikan, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjalan.
Sebab terkadang, orang yang berangkat dari titik minus justru belajar lebih banyak tentang arti perjuangan, rasa syukur dan tanggung jawab. Andi


![Ilustrasi pemilu. [pexels]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/05/pexels-element5-1550337-120x86.jpg)





![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



